Pilihan

Setiap orang akan berada pada pilihan-pilihan yang barangkali sulit. Tapi setiap orang pun berhak atas pilihannya itu. Setiap orang berhak memilih satu. Berhak atas keputusannya sendiri. Meski barangkali akan banyak orang yang benci, yang memaki, atau seluruh dunia menolak atas keputusan dan pilihannya itu sekalipun.Kita hanya perlu percaya pada diri kita sendiri. Bahwa segala yang kita pilih dan putuskan adalah tanggung jawab kita untuk segala yang akan terjadi di depan. Kita yang akan bertanggung jawab, atas segala konsekuensi yang terjadi setelah itu. Termasuk segala penolakan dari sekeliling. Tapi sekali lagi, kita hanya perlu percaya pada diri kita sendiri, bahwa kita yang akan menjalani itu. Kita yang akan melewatinya. Menjaga dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil. Bukan orang lain.

Tanyakan lagi pada diri sendiri, diskusikan lagi dengan Tuhan. Pasrahkan segala urusan. Mantapkan hati dengan segala kepercayaan kita pada apa-apa yang telah Tuhan berikan dan tunjukkan. Jangan sampai salah langkah. Jangan sampai menyesal di kemudian. Sebab satu keputusan yang kita ambil hari ini, akan membuka banyak peluang untuk segala ujian datang. Kita hanya perlu bersiap, bersabar dan ikhlas dari awal saat kita mengambil keputusan. Memilih sesuatu atau seseorang.

Tanyakan lagi, sudah sejauh mana kita siap atas segala konsekuensi yang hadir setelah keputusan yang akan kita ambil hari ini. Sudah siapkah di caci? Dibenci? Sudah siapkah menerima apapun yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang akan kita pilih hari ini? Hati kita sudah luas kah? 

Jangan takut. Jangan khawatir. Selama kita melalui jalan yang baik, melalui cara yang baik, dan dengan niat yang baik, insyaallah akan Tuhan mudahkan. Perkara siapa saja yang menolak dan membenci, itu sudah menjadi urusan mereka sendiri. Barangkali melalui kita lah mereka harus belajar bagaimana meluaskan hati. Bagaimana mendewasakan diri. Juga bagaimana cara memperjuangkan seseorang dengan baik tanpa memaksa.

Hati-hati, semua bergantung pada sejauh mana kita yakin. Sejauh mana kita bisa menerima segala yang akan terjadi setelah keputusan yang akan kita ambil hari ini.

Masih ada waktu untuk berunding dengan Tuhan. Jangan lama-lama, pun jangan pula tergesa-gesa. 

Selamat memantapkan hati. Selamat mengambil sebaik-baik keputusan. Selamat menyiapkan hati atas segala konsekuensi yang akan kita terima di kemudian hari.

Yogyakarta, 24 Juli 2017

Istiana

Blog dan Tumblr

Assalamualaikum wa rahmatullohhi wa barokatu.

Selamat siang teman-teman semua. Sudah lama sepertinya saya meninggalkan ruangan ini, ruang saya mengabadikan tiap rasa yang tercipta dalam dada. Ruang untuk saya mengabadikan tiap perjumpaan dan perpisahan, juga segala rasa yang hadir dari itu semua.

Beberapa bulan ini saya banyak mengurangi menulis, entah di instagram maupun di blog. Karena kebetulan ada hal-hal yang harus saya selesaikan di luar kegiatan saya di dunia maya, lagi sok sibuk gitulah ceritanya :D.

Satu bulan ini saya banyak menjelajah dunia per tumblr an, bukan bosen sama blog atau ig sih, cuma lagi menemukan ruang yang pas untuk berkontemplasi. hehe

Jadi mulai hari ini, saya akan membagi tulisan saya di dua ruang. Di blog ini saya akan menulis tentang rasa, jatuh cinta, menanti, dan seputar perasaan lain selama masa menunggu seseorang di tempat yang bernama “penantian”. Sedangkan di tumblr, akan saya jadikan ruang untuk saya berkontemplasi, curhat, dan segala hal yang berhubungan dengan peningkatan kualitas diri dan iman. Tumblr saya jadikan ruang untuk saya berkaca, untuk menengok hati dan perjalanannya menjadi perempuan yang benar-benar mencintai dan dicintai-Nya. Segala yang saya tumpahkan disana semata-mata untuk saya berkaca dan menasehati diri, agar selalu mengingat apa yang seharusnya dilakukan di dunia ini. teman-teman boleh bertamu, boleh ikut mencicip apa yang saya suguhkan disana, racikan tinta entah dari teman atau dari orang-orang yang ilmu perihal agama lebih tinggi dibanding saya yang masih remah-remah ini. Alamatnya silahkan di klik istianana.tumblr.com.

Untuk postingan khusus di blog ini akan saya posting seminggu dua kali, untuk tumblr mungkin akan lebih banyak. Dan untuk instagram, saya akan tetap banyak berada disana, beberapa postingan mungkin akan sama dengan yang di blog atau tumblr.

Terimakasih, selamat berbenah, selamat menikmati tiap rasa yang tengah membuncah. Hati-hati, jangan lupa jangan sampai salah jalan. Pelan-pelan, redam, hingga waktu mengatakan bahwa sudah saatnya rasa itu diungkapkan, melalui ikrar yang penuh dengan rahmat Tuhan.

Wassalamualaikum wa rahmatullahhi wa barokatuh.

Yogyakarta, 6 Juli 2017

Istiana

Tanpa Judul

Kamu tidak akan bisa mengenaliku hanya melalui penaku. Tidak bisa juga hanya melalui apa yang keluar dari tiap gores tinta milikku.

Apa yang kutulis belum tentu apa yang sedang kurasa. Belum tentu apa yang sedang aku alami. Jadi kumohon jangan salah terka.

Kenali aku pada tiap sujud panjangmu di sepertiga malam. Pada tiap doa yang kamu langitkan. Jangan percaya apa kata orang. Sebab disana, belum tentu benar apa yang mereka sangkakan. Aku tak sebaik yang mereka kira. Pun tak seburuk apa yang mereka duga. Jadi sekali lagi, jangan salah terka hanya karena kamu menjadi bagian dari pembaca. Kamu tidak akan pernah benar-benar mengenalku jika hanya melalui apa yang ada dalam tiap bait aksaraku.

Yogyakarta, 6 Juli 2017

Istiana

Istiana

Mimpi dan tujuan

Kamu terlalu bersemangat tuliskan mimpimu yang beragam. Kamu terlalu bersemangat menyusun peta kemana arahmu mencapai impian. Namun sayangnya, kamu tak pandai menjaga semangat itu untuk wujudkan satu demi satu apa yang sudah kamu tuliskan.
Kamu mudah lengah. Langkahmu gontai ketika satu demi satu ujian menyapamu dalam perjalanan. Kamu lalai, ketika satu demi satu kesenangan semu melingkupi hidupmu. Kamu lupa. Ada yang lebih perlu. Ada yang harus kamu usahakan. Ada yang harus kamu wujudkan. Mimpi yang seharusnya menjadi tujuan.
Kamu sering lupa. Sering salah arah. Sering lepas kendali. Sering terlalu takut dengan segala konsekuensi dari tiap mimpi yang terbit dari kepalamu. Ketakutan yang harusnya kamu hilangkan. Namun justru jadikanmu makin penakut. 

Harusnya kamu mencari pelindung. Mencari tempat untuk bisa lebih berani. Bukan. Bukan mencari. Karna tempat itu sudah ada sejak dulu. Hanya saja kamu kurang yakin barangkali. Coba lihat langit, siapa yang menghuni? Bukankah Maha Besar harusnya cukup untuk membuatmu tak takut lagi pada apa-apa yang di depan nanti? Jika kesulitan, pasti dimudahkan. Jika berat pasti diringankan. Jika lemah pasti dikuatkan. 

Jika impian adalah tujuan. Lalu mengapa mimpi itu tak juga lekas kamu hidupkan? Perjalananmu menyenangkan kah jika tanpa tujuan?
Atau jangan-jangan, nama Tuhan pun tidak kamu jadikan tujuan?
Yogyakarta, 11 Juni 2017
Istiana

Daya

Semasing kita punya daya. Satu dengan yang lainnya berbeda. Perjalanan yang kita lakukan pun akan berbeda rasanya. Sebab dari kesemuanya, selalu ada perbedaan pada liku dan perjuangannya.

Seperti kata mas gun, “yang membedakan hanyalah daya juangnya”.
Memang benar, daya juangnya yang berbeda. Sejauh kita masih bersedia mengusaha, tanpa membandingkan dengan perjalanan orang lain. Mereka punya likunya sendiri, punya cara memperjuangkannya sendiri.
Bisa lebih mudah dari milik kita, pun bisa lebih sulit dari apa yang kita kira sebelumnya. Semua hanya tergantung darimana kita memandangnya kan? Kita perlu kacamata positif untuk memandang segala sesuatu yang ada dalam perjalanan kita sendiri, pun orang lain.

Liku perjalanan yang kita rasa memberatkan, akan begitu terasa ringan jika mata kita kita hanya tertuju pada jalan yang “PASTI” sudah disiapkan Tuhan. Tinggal sejauh mana kita pandai menemukan dengan sebaik-baik pandangan. Pun sama dengan perjalanan orang lain, mereka yang merasa berat, merasa sulit melanjutkan, merasa ingin berhenti dan menyerah. Akan menjadi mudah jika kita pun bersedia membuat mereka percaya bahwa jalan Tuhan pasti ada. Perjalanan ini bukan sia-sia, ada maksudNya yang rahasia. Ajari kita banyak hal kan?

Pasti berbeda. Pasti. Liku perjalanan yang kita miliki pasti berbeda dengan milik orang lain. Daya dari kita mengusaha pun berbeda. Namun sungguh, semua sudah sesuai dengan sebaik-baik takaranNya. Tidak akan lebih tidak akan kurang.
Sebanding dengan kemampuan dan kekuatan masing-masing kita dalam menjalaninya.

Ada yang harus ditingkatkan, ada yang tak boleh dihilangkan. Keikhlasan, kesabaran, dan semangat dalam meniti dan menghadapi apa yang ada dalam perjalanan itu sendiri.
Hari ini, belum saatnya berhenti. Percaya kan? Bahwa segalanya akan menjadii mudah jika mata kita tertuju pada segala hikmah yang terselip di dalamnya. Pada jalan keluar yang pasti telah disiapkan Tuhan untuk melewati tiap liku yang menghimpit dan memaksa kita berhenti sebelum waktunya.

Yogyakarta, 10 juni 2017

Istiana

Hasil

:

Kita pernah mengusaha, pernah begitu yakin dengan sesuatu atau seseorang yang kita usahakan. Pun pernah begitu percaya bahwa usaha kita tak pernah sia-sia. 
Namun rupanya, kita lupa bahwa segala perihal hasil tak pernah sama sekali bisa kita ukur dengan besar kecilnya usaha. Semua bergantung pada ridha yang mencipta kita. Bergantung pada kehendak-Nya. Bukan pada besar kecilnya usaha yang kita lakukan.
Maka pada setiap apa yang kita usahakan hingga hari ini, sesuatu atau seseorang. Meski telah menguras pikiran, tenaga, hati dan perasaan, percayalah itu semua tidak lantas membuat apa yang kita usahakan akan berada dalam genggaman. Ada rencana yang memang belum tentu selaras dengan rencana kita, ada kehendak yang lebih utama dibanding kehendak kita. 

Bukan lantas kita menjadi berpasrah dan menyerah, bukan. Kita hanya perlu tancapkan keikhlasan dari awal, bahwa dalam tiap usaha itu selalu hasil yang sifatnya rahasia. Bisa berbanding terbalik dengan keinginan kita, pun bisa sesuai dengan sejauh apa kita mengusaha, tergantung kehendak Tuhan seperti apa. Kita hanya perlu siapkan hati yang luas, untuk menerima segala ketentuan di depan nanti.

Entah keberhasilan atau kegagalan, percayalah tidak ada maksud Tuhan untuk jatuhkan kita. Keduanya sama-sama memerlukan hati yang luas, agar kita tetap damai. Keduanya sama-sama membuat kita belajar, bahwa apapun yang dihadirkan Tuhan selalu bernilai kebaikan, selalu menyimpan alasan dan pembelajaran mengapa dihadirkan. 

Selamat melanjutkan apa yang masih perlu diusahakan. Semoga tiap lelah yang menyertai tiap usaha selalu terselip keikhlasan perihal hasilnya di depan. Jangan lupa siapkan hati yang lapang, kesabaran yang tak boleh tenggelam, dan semangat yang harus tetap menyala pada hati semasing kita.
Selamat pagi 🙂

Ramadhan #9 Sebatas rebutan.

:Satu diantara dua belas yang begitu berbeda. Begitu mampu merebut jiwa yang tadinya biasa. Begitu berhasil mengetuk hati-hati yang rapat tak ingat TuhanNya. Begitu berhasil memaksa langkah untuk selalu menuju rumahNya. Dan begitu berhasil membawa diri memanfaatkan tiap detik yang tersisa. 

Ada yang berebut shalat berjamaah, beramal lebih dari biasanya, tilawah berulang, banyak menjaga lisan, pandangan, pikiran dan hati yang sering riuh dengan berbagai prasangka penggugur iman. Kita menjadii bersemangat. Mendadak menjadi bersemangat. Mendadak taat. Dan dadakan-dadakan yang lain atas nama kebaikan menjemput keberkahan ramadhan.

Berapa lama? 

Sayangnya, 

Itu semua kadang hanya sementara. Hanya cukup dalam sebulan saja. Lalu esok, ketika bulan tlah berganti di angka berikutnya, semangat itu tak lagi menyala seperti di bulan sebelumnya. Taat yang tadinya benar-benar terjaga kala ramadhan tiba, esoknya tlah kembali menjelma berulangnya alpa. Hati yang sebelumnya benar-benar dijaga putihnya, esoknya tlah kembali menjelma bercak-bercak noda sebab uraian dosa. 

Ramadhan bukan lagi menjadi perbaikan. Bukan lagi membangun kebiasaan baik dalam rangka tingkatkan iman. Bukan lagi menjaga taat yang seharusnya tak hanya sebulan. Ia akan terlewatkan begitu saja saat bulan berganti pada angka berikutnya.

Ia hanya menjadi bulan yang dijadikan upaya berebut berkah. Berebut pahala. Berebut ampunan. Berebut hal-hal lain atas nama kebaikan.

Sedangkan jika kita mau pun, kita bisa jadikan bulan itu sebagai upaya perbaikan. Membangun kebiasaan, meningkatkan kualitas diri juga iman. Tigapuluh hari kurasa cukup untuk membuat segalanya menjadi rutinitas. Menjadi kebiasaan yang bisa dipertahankan kala ramadhan usai. 

Sulit?

Sangat.

Namun bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan bukan? Sebab kata guruku, aku harus menganggap ramdhan ini ramadhan terakhir kalinya dalam hidupku. Thun depan tidak ad lagi, bisa jadi aku sudah mati dan pergi dari dunia ini. Dengan begitu, aku bisa gunakan sebaik-baik waktu manfaatkan bulan yang penuh dengan berkah dari Sang Pemilik Kehidupan. Membangun kebiasaan. Mencipta perbaikan. Meningkatkan kualitas diri dan juga iman. Pelan-pelan. Meski sulit, Tuhan pasti mudahkan. Niat baik akan selalu diberi jalan kan? 

Dan semoga niatnya lurus. Tujuannya lurus. Jalannya pun lurus. Meraih cintaNya. RidhaNya. 

Innamal a’malu binniat
Yogyakarta, 4 juni 2017
Istiana